Rabu, 29 November 2017

Alot Katanya

Aku keluar dari lorong yang gelap dan bacin
Pernah merasa tak dianggap
Lalu dicari lagi untuk melengkapi
Tanpaku katanya tak asik

Aku mengasingkan diri dari kebisingan
Bising dari semak-semak eksistensi
Antara jabatan dan kekayaan
Hingga popularitas

Terkadang bingung dengan berita yang isinya hanya kriminal
Melongo di pekarangan belakang rumah
Sambil memandangi pohon pisang yang kering
Seakan gagal panen akibat hujan deras

Lucunya ada orang yang tak mau mendengarkan kisah orang lain
Hanya karena korban api cemburu yang menyala
Menggelitik memang!

Kopi pahit ini kuseruput dengan panas
Seakan neraka berada di depan mata saat meminumnya
Takut dan berkecamuk sebelum kudapatkan syaratnya
Tapi anehnya pemandangan itu kesan ketamakkan

Makhluk Tuhan punya cara masing-masing memujiNya
Tapi manusia jarang memikirkannya
Buat apa? Buang-buang waktu saja katanya

Ini bukan hanya waktu tapi melatih otak kita
Agar tak hanya berpikir bagaimana cara kawin muda
Dengan mahar seadanya
Namun bisa buat hajatan istimewa

Seperti ilmu akuntansi ujarnya
Modal sedikit tetapi keuntungan melimpah-ruah
Seperti banjir di suatu kota
Air meluap tanda insfrastruktur yang manja

Kawin iya Nikah enggak
Biasa dilontarkan remaja-remaja
Sama saja berjanji sengaja lupaTak
Agar mendapat bintang di dada

Oh Pulau Dewata
Seakan mendorong bahtera
Siap berlayar mencari rempah lama
Yang terkubur waktu penjajahan belanda

Rabu, 20 September 2017

KAMU itu KOPI

Kusuka kopi, sepertimu!
Dan pahit, layaknya kehidupan
Hitam pekat, seperti orang-orang memandang
Hanya ada 1 harumnya yang mengalahkan semua kenikmatan

Aku dan Lucu

-AKHIR YANG MEMBERIKAN TANDA BACA-

Tuhanku yang Maha Tau dari segala yang tau.
Hari ini aku menemukan seseorang yang terjebak di dalam kebohongan yang nyata dan itu sangat lucu.
Mencari celah untuk masuk ataupun keluar?
Sehingga perutku menjadi geli melihatnya.

Aku hanya bisa mengetik dan terus mengetik sampai waktu yang sudah ditentukan.
Dalam tiap selubung terdapat kilauan entah sebaliknya.
Hati ini dan semua yang ada apa diriku hanya milikNya.
Dan aku mendapatkan kelebihan dari mereka yang tidak memikirkan bahwa kita ini sama
Begitu juga dengan c.i.n.t.a yang selalu diperdebatkan oleh makhluk

Dari setiap penjuru aku dilindungi cahaya bahkan kamu sendiri tak mampu menembusnya
Hanya Dia yang tau
Bahkan aku?
Kelip mata hanya menjadi simbol dan saksi bisu
Bahwa menjadi baik di muka bumi itu tidaklah benar
Sebab bumi tak memiliki muka

Aku hanya tersenyum bahkan menggelitik
Kenapa manusia se-begitunya?
Kenapa?
Bahkan pendidikan yang selama ini kumakan saja tak kenyang
Untuk meminum darah yang dipertahankan

Urat nadi yang melilit di jantung hati tak mampu lagi diluruskan
Tanpa seizin yang punya!
Sedih dan senang
Bingung harus mengekspresikannya
Tuhanku sungguh Maha Rahasia

Rabu, 09 Agustus 2017

Aku Kembali

Aku pergi dari hiruk piruk kota yg menyedihkan
Dari orang seperti kerbau yang selalu diseret
Dari penguasa yang selalu dielu-elukan
Dan budak uang yang selalu menjual kelamin

Aku kembali ke masa di mana sepi selalu menemani
Tawa seakan kaku dan bibir selalu bertasbih
Hanya ayat suci dan lantunan merdu dengan tangis
Sosok diri yang dulu sempat menjadi titipan
Kini kembali

Aku kembali
Kembali memberi
Memberi peringatan
Peringatan akan kembali
Kembali ke jalan
Jalan yang sama
Sama tentunya beda
Beda jalannya

Aku kembali sepi
Sepi seakan menyingkap mentari
Kapal nenek moyang sudah berhenti
Untuk kembali

-Nengelis-

Rindu itu Kamu, Sepi itu Aku

-RINDU ITU KAMU, SEPI ITU AKU-

Hidup itu sebuah LELUCON
Di mana aku berperan sebagai SEPI
Dan kamu sebagai RINDU
Tapi adakalanya sepi dan rindu saling menyatu

Tuhan itu Wal Maha
Memang benar katanya
Aku hanya sepi dan kamu adalah rindu
Kita saling bertemu kala ada yang rindu dan sepi menghampiri

Memang benar katanya tulisanku dapat menembus waktu
Menembus alam bahkan menembus surga dan neraka
Tapi tulisanku tak mampu menembus rindu
Kenapa?
Sebab rindu adalah kamu

Aku pernah berpikir kenapa Tuhan menciptakan seseorang yang kuat sepertimu? Bahkan wanita selicik aku saja tak sanggup untuk menerjemahkan siapa kamu itu sebenarnya?
Kamu adalah rindu dan aku sepi
Hanya itu!

Pintu surga dan neraka sudah dibuka oleh rindu dan sepi
Pantas saja semua sajak yang kupelajari tak mampu melukismu
Rindu adalah kamu
Kamu adalah titipan agar manusia berpikir

Bagiku rindu itu tak hina
Begitu pula kamu
Aku sudah menipu banyak semua rindu
Tapi rindu kamu itu beda
Berbeda dengan mereka
Mereka yang pernah ada dalam daftar korbanku

Kau tau aku selalu rindu
Dan kamu selalu sepi
Kita menyatu dalam balutan rindu yang sepi
Tak akan ada yang bisa memisah
Tak kan bisa berpisah

Aku adalah sepi
Dan kamu rindu

Banjarmasin, 03 Agustus 2017

Kamis, 11 Februari 2016

Kamu Lagi

Senja itu sosok dirimu nampak samar, awal kita berjumpa untuk pertama kalinya di bawah naungan pohon yang tak terlalu rindang dan cahaya lampu yang tak begitu terang. Saat itu gerimis melanda dan badan ku terasa dingin serta isi perut melompong tanpa sisa. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahmu dengan manisnya. Namun, ku sembunyikan sejuta rasa darimu.
Entah pertemuan macam apa ini? Kala itu kita semakin dekat, saling peduli dan saling tertarik satu sama lain. Pada suatu ketika dirimu mencari alasan untuk jalan berdua dengan ku, aku memenuhinya tanpa tanya dan tanpa banyak bicara. Terlihat wajahmu merah padam saat aku keluar dari rumah dan mulai menaiki motormu. Kita terlena dengan cerita, tak sengaja cuaca gerimis sama halnya seperti saat jumpa pertama. Entah kehendak Yang Maha Esa atau tidak yang pasti langit pun sepertinya cemburu melihat kedekatan kita.
Aku berjalan menyusuri waktu tanpa henti. Terfikir akan senyum manis bibirmu yang terdapat kumis tipis, sehingga meluluh lantakkan kehampaan hatiku. Sekarang kemana perginya dirimu? Datang tak diundang seenaknya saja meninggalkan ku tanpa pesan.
Semakin hari semakin tumbuh perasaan ini, tanpa ku sadari kau hanya sebuah ilusi nyata bagiku. Semakin terbuai aku di dalam duniamu, sungguh aku tak mampu melawan kesengsaraan hati ini sendiri. Berdua menurutku akan lebih ringan beban ini jika kita saling berpegangan dan saling berkata "Aku selalu ada untukmu" tapi itu hanya imajinasi ku.
Terbangun aku dan sengaja membuka jendela dengan dunia yang fana dan mulai melukis garis sehingga menjadi sindiran hidupku. Kelam tanpamu, kau hanya sebuah bayang yang tak lagi nyata sebagai alasanku tersenyum. Hilang dan padam seketika senyummu yang selalu menggodaku waktu aku termenung.

Lelaki Di Bawah Lampu Rektorat



Matahari mulai tenggelam dan aku masih saja menunggu di bawah pohon yang rindang itu sambil melihat yang lain berpakaian rapi. Semua mata tertuju kepadaku, mungkin karena memakai baju biasa dan celana pendek yang hanya menutupi lutut. Tapi aku tetap saja bersikap cuek dengan orang-orang sekitar. Memang salahku memakai baju yang kurang pantas untuk memasuki wilayah Universitas ternama ini.
Senja mulai turun, aku masih mondar-mandir menunggu temanku yang katanya berada di tempat yang sama. “Ahh sial.” aku menggerutu sambil memegang handphone dan berharap temanku segera bergegas ke tempat ku berada. Lama sekali, sehingga langit bersedih melihat alisku yang mulai mengerut akibat kecerobohan dia.
Gelap sudah dan rintik hujan turun membasahi rambutku yang bergelombang, selang 5 menit menunggu dan akhirnya tiba jua mereka. Aku berusaha pasang senyum manis sedikit terpaksa memang, karena aku merasa lapar. Alih-alih kami berbincang, aku melihat sosok lelaki di bawah lampu rektorat itu memperhatikan ku. Namun, aku tak jelas melihatnya sebab dia terlihat remang dan mataku tidak normal jika melihat dengan jarak yang lumayan jauh. Tak lama kami pun pergi dan ke warung pinggir jalan.
Tak ku sangka lelaki tadi mendekat ke arahku dan bertanya sambil menyodorkan sapu tangan yang mirip sekali dengan punyaku.
“Permisi Nona,apakah ini benar punya Anda? Saya menemukannya di bawah bangku yang Anda duduk saat senja tadi.” (Sembari tersenyum).
“Oh iya benar ini punya Saya, terima kasih sudah mengembalikan.” (Sambil melihat nama yang tertera di saputangan).
Tak selang lama kami mulai berkenalan, raut wajahnya yang manis dihiasi dengan kumis tipisnya itu seakan membuat aku terkesima betapa senangnya aku melihat senyum yang terpancar ceria.
Nampaknya dia menyukaiku, kenapa aku bisa berfikir sekuat itu? Mungkin aku yang terlalu PD atau memang benar ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Klasik memang jika itu terjadi denganku. Tapi siapa yang sanggup mendefinisikan cinta jika sudah terlena? Bahkan otak yang sedarinya beku menjadi cair dengan yang namanya cinta.
Semakin hari semakin dekat saja antara aku dan dia, sering berbagi cerita dan pada akhirnya mengungkapkan isi hati masing-masing. Entah dari mana berawal perasaan itu muncul lagi. Padahal aku seorang wanita yang tak mudah jatuh cinta. Apakah ini hanya rasa kagum saja karena dia mengembalikan saputangan kesayangan ku? Ataukah dia hanya tempat di mana aku merasa sepi? Entahlah, semakin hari semakin aku rindu dengannya.
Minggu pagi tiba dia mengajak aku jalan-jalan di Taman Kota, sambil menikmati hijaunya rumput dan pepohonan. Aku memejamkan mata dan menghela nafas melihat ke arahnya. Dia sedang duduk di bawah pohon rindang, menulis sesuatu dan menyuruhku untuk memahami makna yang ditulisnya itu.

Kamu adalah peri kecil yang dikirim Tuhan untukku
Menghapus kesedihan disetiap jenuh
Mengurangi beban hidup
Dan membuat aku bisa merasakannya lagi
Kamu memang tidak cantik, putihpun tidak
Tapi entah kenapa kamu begitu berbeda dengan wanita yang lain
Kamulah jawaban atas segala do’a ku

Dia tersenyum kepadaku ambil memeluk erat, “Tolong jangan pergi! Aku butuh nafas untuk menikmati sisa usiaku.” Sambil terisak tiba-tiba keluar cairan berwarna merah dihidungnya, mukanya memucat seperti mayat hidup dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca dan mengarahkan tanganku tepat dijantungnya.
“Tuhan memberikanku cinta untuk hidup, dan cinta itu kini aku berikan seutuhnya kepadamu. Tolong jaga dan rawat hati yang mulai rapuh ini. Aku senang bertemu denganmu wanita aneh yang sudah memberikanku cinta seutuhnya”.
Aku bingung dan tidak tau harus berbuat? Apa arti semua ini?. Terlena akan tangis dalam peluknya. Baru saja aku melihat wajahnya untuk menenangkan sambil menyeka darah yang keluar dia tersenyum dan lenyap seketika, dalam remangnya seperti cahaya lampu di bawah lampu Rektorat.
Aku menangis sejadi-jadinya sampai dia tak terlihat dan tak merasakan lagi dekapan itu. Ternyata aku hanya mimpi dan aku bersyukur itu. Hanya saja kau adalah imajinasi yang tak kunjung nyata bagiku.