Matahari mulai tenggelam dan aku masih saja menunggu
di bawah pohon yang rindang itu sambil melihat yang lain berpakaian rapi. Semua
mata tertuju kepadaku, mungkin karena memakai baju biasa dan celana pendek
yang hanya menutupi lutut. Tapi aku tetap saja bersikap cuek dengan orang-orang
sekitar. Memang salahku memakai baju yang kurang pantas untuk memasuki wilayah Universitas
ternama ini.
Senja mulai turun, aku masih mondar-mandir menunggu
temanku yang katanya berada di tempat yang sama. “Ahh sial.” aku menggerutu
sambil memegang handphone dan berharap temanku segera bergegas ke tempat ku berada.
Lama sekali, sehingga langit bersedih melihat alisku yang mulai mengerut akibat
kecerobohan dia.
Gelap sudah dan rintik hujan turun membasahi rambutku
yang bergelombang, selang 5 menit menunggu dan akhirnya tiba jua mereka. Aku
berusaha pasang senyum manis sedikit terpaksa memang, karena aku merasa lapar. Alih-alih
kami berbincang, aku melihat sosok lelaki di bawah lampu rektorat itu
memperhatikan ku. Namun, aku tak jelas melihatnya sebab dia terlihat remang dan
mataku tidak normal jika melihat dengan jarak yang lumayan jauh. Tak lama kami
pun pergi dan ke warung pinggir jalan.
Tak ku sangka lelaki tadi mendekat ke arahku dan
bertanya sambil menyodorkan sapu tangan yang mirip sekali dengan punyaku.
“Permisi Nona,apakah ini benar punya Anda? Saya
menemukannya di bawah bangku yang Anda duduk saat senja tadi.” (Sembari
tersenyum).
“Oh iya benar ini punya Saya, terima kasih sudah
mengembalikan.” (Sambil melihat nama yang tertera di saputangan).
Tak selang lama kami mulai berkenalan, raut wajahnya
yang manis dihiasi dengan kumis tipisnya itu seakan membuat aku terkesima
betapa senangnya aku melihat senyum yang terpancar ceria.
Nampaknya dia menyukaiku, kenapa aku bisa berfikir
sekuat itu? Mungkin aku yang terlalu PD atau memang benar ini yang namanya
cinta pada pandangan pertama? Klasik memang jika itu terjadi denganku. Tapi
siapa yang sanggup mendefinisikan cinta jika sudah terlena? Bahkan otak yang
sedarinya beku menjadi cair dengan yang namanya cinta.
Semakin hari semakin dekat saja antara aku dan dia,
sering berbagi cerita dan pada akhirnya mengungkapkan isi hati masing-masing.
Entah dari mana berawal perasaan itu muncul lagi. Padahal aku seorang wanita
yang tak mudah jatuh cinta. Apakah ini hanya rasa kagum saja karena dia
mengembalikan saputangan kesayangan ku? Ataukah dia hanya tempat di mana aku
merasa sepi? Entahlah, semakin hari semakin aku rindu dengannya.
Minggu pagi tiba dia mengajak aku jalan-jalan di Taman
Kota, sambil menikmati hijaunya rumput dan pepohonan. Aku memejamkan mata
dan menghela nafas melihat ke arahnya. Dia sedang duduk di bawah pohon
rindang, menulis sesuatu dan menyuruhku untuk memahami makna yang ditulisnya
itu.
Kamu adalah
peri kecil yang dikirim Tuhan untukku
Menghapus
kesedihan disetiap jenuh
Mengurangi
beban hidup
Dan membuat
aku bisa merasakannya lagi
Kamu memang
tidak cantik, putihpun tidak
Tapi entah
kenapa kamu begitu berbeda dengan wanita yang lain
Kamulah
jawaban atas segala do’a ku
Dia tersenyum kepadaku ambil memeluk erat, “Tolong
jangan pergi! Aku butuh nafas untuk menikmati sisa usiaku.” Sambil terisak
tiba-tiba keluar cairan berwarna merah dihidungnya, mukanya memucat seperti
mayat hidup dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca dan mengarahkan
tanganku tepat dijantungnya.
“Tuhan
memberikanku cinta untuk hidup, dan cinta itu kini aku berikan seutuhnya
kepadamu. Tolong jaga dan rawat hati yang mulai rapuh ini. Aku senang bertemu
denganmu wanita aneh yang sudah memberikanku cinta seutuhnya”.
Aku bingung dan tidak tau harus berbuat? Apa arti
semua ini?. Terlena akan tangis dalam peluknya. Baru saja aku melihat wajahnya
untuk menenangkan sambil menyeka darah yang keluar dia tersenyum dan lenyap
seketika, dalam remangnya seperti cahaya lampu di bawah lampu Rektorat.
Aku menangis sejadi-jadinya sampai dia tak terlihat
dan tak merasakan lagi dekapan itu. Ternyata aku hanya mimpi dan aku bersyukur
itu. Hanya saja kau adalah imajinasi yang tak kunjung nyata bagiku.