Kamis, 01 Januari 2015

Hadiah Untuk Ayah

Entah kenapa diriku ini mulai rapuh...
Saat beliau selalu memberi ku keluh...
Maksud hati ingin merayu supaya fikiran tak lagi keruh...
Ayah dengarkan aku yang penuh peluh...
Rangkul aku yang mulai rusuh...
Kecup keningku saat ku jatuh...
Dekap aku disaat ku mulai runtuh...

Ayah, jujur kata ini tak mampu ku ucap.
Setiap ingin mengucap, air mata ini selalu menyertai. Ingin ku merengek seperti dahulu, saat aku kecil dan meminta agar kau menggendongku. Ayah aku sadar, jasmani ini sudah tak lagi seperti dulu. Otak ini mulai berfikir dan terus berfikir. Bagaimana cara untuk tidak membuat mu kecewa kepadaku. Ayah ku tau kau masih mengganggap ku gadis mungil mu, tapi kenyataan aku sudah dewasa. Aku harus bisa berjalan tanpa kau tuntun lagi. Hmm tenang Ayah, aku tak apa-apa. Aku bisa berjalan tanpa kau rangkul lagi, aku bisa berbicara tanpa kau ajari ku lagi. Dan aku bisa menjaga diriku tanpa kau lindungi lagi. Ayah, yakinkan dirimu bahwa senantiasa Tuhan selalu menjagaku. Aku mencintaimu Ayah, sungguh. Tapi aku benci saat kau berprasangka buruk kepadaku, aku tidak suka saat kau berdusta denganku.

Ayah, walaupun aku sering keluar malam yakinlah aku tidak akan macam-macam. Walaupun aku sering jalan dengan teman lelaki yakinlah aku tidak melakukan hal yang membuat masa depanku sendiri hancur. Ayah ku ingin kau restui aku selalu.

Maafkan aku Ayah, yang selalu membuatmu marah, kecewa, murka, menyerah, dan sebagainya. Jujur ini semua ku lakukan demi kebaikan diriku dan demi kebaikan Ayah juga. Yakin Ayah, Tuhan selalu menjagaku dalam cahayaNya. Ayah aku ini masih gadis mungil mu hanya saja sudah bermetamorfosa menjadi gadis dewasa. Aku ingin membahagiakan hari tua Ayah kelak. Hadiah untuk Ayah sudah ku berikan. Ayah kau pasti menyukainya. Itulah hasil yang ku dapat setelah beberapa bulan aku sering keluar malam. Ayah kau tau? Aku keluar malam itu untuk mencari pengalaman dan membuat otak ku berfikir keras untuk meraih ilmu dan nilai tertinggi di sekolah. Dan sekarang aku bisa meraih nilai tertinggi walau hanya dalam kelasku. Namun, ku tau kau pasti bahagia saat mendengar aku memperoloeh nilai tertinggi di kelas.

Selamat ulang tahun yang ke47 Ayah. Semoga Ayah panjang umur, sehat selalu, dimurahkan rezekinya, jangan terlalu mengkhawatirkan aku lagi, jangan terlalu posesif lagi, jangan berfikiran hal buruk padaku lagi, dan aku berniat untuk membahagiakan Ayah dan Ibu dengan hasil kerja kerasku sendiri Aamiin.
Mungkin hanya dengan tulisan ini hatiku mulai reda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar