Sabtu, 06 Juli 2013

Pekat Malam...

Terdiam aku dalam pekat nya malam. Hingga aku tak tau arah tak dapat melihat. Melihat bayang tangan ku sendiri saja aku tak bisa. Apalagi bayang kau ! Tapi aku bisa merasakan kau ada di dekat ku.

Tubuh ku meronta kesakitan dan kedinginan. Merasakan kaki ku yang lelah dan gemetar. Badan ku seperti pasir di lautan, yang berhambur ke bibir pantai. Kini aku sendiri menatap pada Ilahi.

Dulu sewaktu aku kecil, sosok ibu meraih tangan ku dan memeluk ku erat. Kini aku tidak berada di sampingnya lagi ! Aku sendiri di dalam pekatnya malam ini. Hanya suara desiran angin yang menyapa tubuhku.Membelai rambut ku menusuk jantung ku.

Aku rindu pada semua orang, kenapa aku terjebak di dalam pekatnya malam? Tak ada cahaya sedikitpun yang muncul. Aku berdo'a menadah tangan kepada Yang Maha Kaya. Memohon cahaya datang menjemput ku. Aku terus berdo'a.

Hingga akhirnya setitik cahaya membawa ku keluar dari pekatnya malam.  Aku bebas ! Bebas dari pekatnya malam, dan kedinginan. Aku bisa melihat semua orang. Satu hal yang sangat ku rindukan saat berada di pekat malam adalah sosok ibu yang sangat mencintai dan menjagaku !

Kini anak mu sudah besar Bu. Tak perlu kau risau dan gelisah saat menatapku. Aku baik-baik saja Bu. Dunia di luar sana sungguh kejam apalagi saat Pekat Malam tiba. Kini aku mengerti kenapa kau selalu melarangku pergi saat pekat malam menyapa. Di pekat malam semua seperti di dalam kotak hitam legam yang luas dan tertutup rapat. Kini aku mengerti tentang kisah Pekat Malam.


Nur Haliza

2 komentar: