Nama ku Aina. Aku anak sulung dari 3 bersaudara. Pagi ini ku bangun seperti biasa, sekitar jam stengah 7an. Padahal aku masih mengantuk, tapi karena ku dengar Ayah sedang berceramah di ruang tamu. Membuatku semakin muak dengan rumah ini. Gara-garanya hanya hal sepele. Karena malam tadi adik bungsu perempuan ku keluar rumah dan bermalam mingguan dengan pacarnya dan baru pulang jam 10 malam.
Akupun bergegas merapikan tempat tidurku, dan keluar kamar. Ayah pun terus berkicau dengan suaranya yang dipelankan namun sangat menusuk ke hati. Aku benci saat seperti ini, adik ku yang salah masa aku juga yang kena salah? Aku sadar, sebagai kaka aku harusnya menjaga dan menasihati adikku. Aku pun menghiraukan nya. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumah ini.
Tapi aku sangat bosan dan muak dengan cengengehan Ayah yang seakan merobek gendang telingaku. Dan aku sangat benci saat mendengar ceramah Ayah saat makan bersama. Dan perutku terasa kenyang jika Ayah mulai ceramah di depan aku dan adik-adikku. Pernah suatu ketika aku mau makan dan makanan itu sudah di hidangkan. Tapi Ayah selalu mengoceh. Aku pun bertanya keada Ayah:
"Kenapa Ayah menasihati aku dan adik-adikku sedang makan? (Air mata ini pun mulai mengalir)"
Ayah: "Karena saat makan saja kalian semua berkumpul !" (Dengan nada yang membentak)
Aku : "Aku langsung meninggalkan hidangan itu dan masuk ke kamarku.
Ayah: "Kau tidak makan? (Nada ditinggikan)
Aku: "Aku kenyang Ayah! (Sambil bercucuran air mata)
Ayah: "Dalan hal apa kau merasa kenyang?"
Aku: "Ayah, aku tak mau kau ceramahi saat aku sedang menikmai rezeki yang di berikan Tuhan (sambil berderai air mata) aku tidak mau nasi itu melihat ku menangis Yah, Ayah ku mohon mengerri aku"
Ayah: "Cepatlah makan! Jangan kau pandai menceramahi Ayahmu sendiri"
Aku buru-buru mengambil kunci motor dan langsung tanpa pamit. Aku membenci semua nya. Di perjalanan air mataku berjatuhan hingga membasahi baju ku. Segera ku usap dan ku coba untuk tersenyum. Ku rasa dengan aku tersenyum akan mengurangi benan di pundakku.
Aku pun mulai berjalan tidak tau arah dan tujuan. Pikiran ku runyam dan sangat hancur berkeping-keping seperti pasir di bibir pantai. Aku benci saat Ayah mulai menyalahkan adik-adikku. Padahal Ayah sendiri yang ridak pernah mengajarkan kepada semua nya apa itu arti Rumah!
Aku pun ingin pulang setelah seharian di jalan. Karena memikirkan adik-adikku. Adikku yang paling bungsu tentu saja dia selalu jalan sama teman atau pacarnya. Sedangkan adikku yang satu nya dia cuma diam di rumah, tidak mau bicara dan tidak mau bercerita tentang apapun.
Aku pun singgah di kedai untuk membeli makanan buat adikku. Setelah itu aku pulang. Sampai dirumah aku melihat adikku yang sedang menangis terisak-isak. Aku mendekatinya serta merangkul nya untuk memberinya ketenangan dan kedamaian. Bagaimanapun aku berbicara sekalipun aku memgancamnya untuk berbicara atau bercerita kepadaku dia tetap diam membisu, seakan-akan tak amu menambah beban deritaku. Akupun mengusap air matanya dan menyuruhnya makan. Setelah makan dia langsung tertidur.
Kupandangi adik ku sayang, dia menderita hidup karena Ayah yang tak pernah memberinya kasih sayang. Semenjak Ibu meninggal dia selalu diam seperti ini. Aku bingung harus berbuat apa.
Kreekkk, suara pintu terbuka. Siapa lagi kalau bukan adik ku yang bungsu. Aku cuma memandangnya. Dia selalu pergi dari rumah setelah pulang dari sekolah dan terkadang dia tidak pulang sekolah sampai jam 9 malam. Karena dia tau Ayah pasti datang dari kantor jam 10an. Aku cuma diam, dan tidak mau memberinya nasihat, percuma saja aku memberinya nasihat jika di abaikannya.
Aku cuma menyayangi adik ku yang satu nya. Bukan karena aku pilih kasih, tapi adikku yang bungsu sudah tidak bisa diatur lagi. Dia menganggap dia sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Walauun itu keputusan Ayah dia tidak pernah mengiyakan.
Dia cuma mendengarkan nasihat Ayah seperti radio yang sudah tua dan berdebu.
Aku selalu menatap diriku sendiri di depan cermin. Aku hanya seorang kaka yang lemah. Tidak bisa membimbing adik-adikku. Dan aku seorang wanita yang mudah putus asa. Dengan hal sepele ini saja aku harus menggugur kan air mata. Ku lihat wajahku, kusam dan penuh dengan kebencian. Ku lihat wajahku tak seceria dulu. Tidak se indah dulu. Kenapa aku lemah dengan seua ini? Aku payah! Aku menganiaya diriku sendiri untuk menjadi orang yang pecundang. Bodoh! Itu yang dapat aku rasakan dalam diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar