Dari
kejauhan aku menatap hampa percikan air itu. Kupikir aku ingin menjadi seperti
air, yang selalu bisa menempatkan diri dimanapun. Menghidupkan suasana,
menyejukkan yang lain dari amarah dan rasa gerah. Tapi disatu sisi aku
bgerfikir lagi. Air selalu saja tidak dihargai, tidak dibalas dengan baik.
Manusia memang kejam, kenapa membuang sampah ditempat air mengalir? Dan membuat
air itu sulit mengalir dan menghambat kebahagiaan, menyumbat kehidupan. Air
berusaha sabar untuk mencari jalan mengalirkan butiran-butirannya. Namun air
juga punya rasa seperti manusia. Air punya rasa sabar yang terbatas, sehingga
kalau saja dia murka maka dia buat bencana.
Harusakah
ini terulang kembali? Kisah pahit yang dipublikasi menjadi tragedi yang amatir?
Aku tidak ingin terjadi lagi. Menjadi seperti air itu tidak menyenangkan,
selalu dibuat noda oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang.
Menjadi seperti air membuatku berfikir, jika kesabaran tidak dapat dibendung
lagi maka air akan naik kepermukaan dan menelan pemukiman penduduk. Aku tidak
ingin seperti itu! Jika emosiku tak dapat dibendung lagi, maka aku akan
menyakiti perasaan orang lain. Sungguh ku tak ingin melakukan hal yang
“TERBODOH” didalam hidupku. Menyakiti perasaan orang lain, sama saja aku
menyakiti diriku sendiri.
Musnah
didalam hati untuk menjadi seperti air, dan aku berfikir aku ingin menjadi
seperti burung merak yang cantik akan pesona warna bulu dibadannya. Namun nasib
sang burung cantik tidak senada dan seirama dengan kehidupannya. Bulu burung
merak yang cantik dijadikan hiasan berbagai alat fasion manusia terutama kaum
hawa.
Aku
terus berjalan melangkahkan kaki, menuju kesebuah danau yang tidak terlalu
luas. Disana terdapat senyum ceria dibibir para anak-anak yang tanpa dosa.
Matanya begitu bening dan pipinya merah merona menikmati air didanau tersebut.
Begitu lepasnya mereka tertawa tanpa ada beban sedikitpun, memang diusia mereka
hanya disibukan dengan bermain saja tanpa dibebani pikiran. Namun saat kulihat sisi
kanan tepi danau terdapat anak yang sedang bersedih, entah kenapa dia tidak
ikut bersenang-senang dengan yang lain. Air matanya jatuh diiringi dengan
isakan yang sangat pelan. Mata ku seraya menyampaikan kepada otakku bahwa tidak
semua anak seusia dia tertawa lepas seperti yang lain.
Hujan
mulai menyapa tubuhku dan semua orang yang ada ditepi danau itu. Semua
anak-anak itu berlari sambil kegirangan dengan tetesan air hujan yang mengguyur
tubuh mereka. Terbesit lagi didalam hati, ku ingin menjadi seperti tetesan air
hujan yang membuat semua anak-anak merasa senang, tak terkecuali dengan anak
yang bersedih dibawah pohon itu. Senyumnya sangat indah ketika hujan turun,
membasahi seluruh alam semesta. Kupikir aku menjadi tetesan hujan yang selalu
mencairkan suasana dan menghapus air mata. Musnah semua, anak-anak yang terkena
tetesan hujan itu akhirnya menjadi demam. Ku
tak ingin memberi kebahagiaan pada mereka tapi akhirnya mereka akan merasakan sakit. Lantas apa???
Malam
menghampiri, aku masih berada dipersimpangan jalan, tak ada satupun transportasi
yang lewat. Aku diam dalam perempatan jalan dibawah paparan pekatnya malam. Aku
sendiri hanya ditemani oleh suara jangkrik dan desiran angin. Kenapa makhluk
malam tak keluar malam ini? Makhluk malam yang cantik dengan cahaya diseluruh
tubuhnya. Mungkin mereka tak ingin menemaniku malam ini.
Tiba
saatnya sang fajar menampakkan rupanya kebumi, mencairkan embun yang berada
didedaunan membuat burung bernyanyi bak penyanyi yang memiliki suara yang tak tertandingi.
Alunan musik itu sungguh nyata datangnya dari hati. Kembangpun bermekaran
menampakkan sari-sarinya. Langit begitu bersih tanpa ada noda, dan udara sangat
sejuk ketika tidak ada asap kendaraan dipersimpangan jalan itu.
Aku
berjalan mengikuti kaki kemana melangkah, pikirku masih kacau entah kenapa aku
tak mengerti. Menuju padang rumput kaki ku berhenti, tak ada satupun bunga yang
kulihat. Hijau sejauh mata memandang, warna rumput yang cerah menyegarkan
mataku dan bisikkan angin riang gembira. Tapi ku lihat ada sekuntum mawar merah
sangat cantik yang tumbuh dibalik rerumputan. Akupun berfikir kembali tentang
sosok diriku. Dan aku menemukannya. Mawar hitam! Itu dia. Mawar hitam tidak
banyak yang tau tentangnya dan hanya tumbuh ditempat-tempat tertentu saja.
Diriku seperti mawar hitam yang banyak orang menilai ku dengan melihat apa yang
telah nampak dari sifat fisikku. Aku memang tak secantik dan seindah mawar
merah yang slalu menampakan warna yang membakar semangat setiap orang yang
melihatnya. Diriku seperti mawar hitam yang busuk dipandang dan aromanya
kepedihan. Hanya sebagian orang yang suka dengan mawar hitam.
Mawar
hitam itu lah diriku, membuat semua orang tak ingin memilikinya bahkan kumbang
tak mau mendekati mawar hitam. Aku dihina dan dicerca. Lihat dengan mata yang
tak memiliki rasa akan keindahan yang dimiliki oleh mawar hitam. Hitam pekat
dan legam membuat siapa saja tak ingin menoleh bahkan mendengarnya. Warna nya
kasar sekasar pribadiku. Aku jahat seperti warna mawar hitam yang selalu
membuat semua orang berfikir negatif tentang diriku. Aku selalu menampakan
warna bungaku yang hitam, menyampaikan aroma kepedihan yang mendalam. Aroma
kepedihan yang medalam adalah aroma yang membuat semua orang tersakiti akan
tingkahlaku diriku. Aku sangat licik, ku membohongi semua orang yang
menyayangiku bahkan aku tega membohongi orang yang ku sayang. Maafkan aku, aku
menyakiti kalian semua. Diriku memang seorang mawar hitam yang slalu
bersembunyi dari keramaian bunga-bunga ditaman. Siapa yang bisa membuatku
bangkit? Kalau tidak diriku sendiri.
Aku
seperti ini karna aku merasa tersakiti, karna aku seperti peran pengganti. Yang
dibutuhkan saat diperlukan. Sanggupkah jika ini terjadi kepada dirimu wahai bunga
yang cantik? Namun terimakasih atas hinaan dan ceraan kalian semua. Kata
motivasi itu membangkitkan diriku untuk menjadi lebihbaik lagi. Dan terus berfikir bahwa sekuntum mawar hitam sulit
ditemukan dan dan hanya tumbuh didaerah tertentu saja. Begitu pula dengan
diriku yang hanya bisa mengenal baik dengan mengetahui sifat asliku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar