Kamis, 04 September 2014

“Seorang Mawar Hitam”



Dari kejauhan aku menatap hampa percikan air itu. Kupikir aku ingin menjadi seperti air, yang selalu bisa menempatkan diri dimanapun. Menghidupkan suasana, menyejukkan yang lain dari amarah dan rasa gerah. Tapi disatu sisi aku bgerfikir lagi. Air selalu saja tidak dihargai, tidak dibalas dengan baik. Manusia memang kejam, kenapa membuang sampah ditempat air mengalir? Dan membuat air itu sulit mengalir dan menghambat kebahagiaan, menyumbat kehidupan. Air berusaha sabar untuk mencari jalan mengalirkan butiran-butirannya. Namun air juga punya rasa seperti manusia. Air punya rasa sabar yang terbatas, sehingga kalau saja dia murka maka dia buat bencana.
Harusakah ini terulang kembali? Kisah pahit yang dipublikasi menjadi tragedi yang amatir? Aku tidak ingin terjadi lagi. Menjadi seperti air itu tidak menyenangkan, selalu dibuat noda oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Menjadi seperti air membuatku berfikir, jika kesabaran tidak dapat dibendung lagi maka air akan naik kepermukaan dan menelan pemukiman penduduk. Aku tidak ingin seperti itu! Jika emosiku tak dapat dibendung lagi, maka aku akan menyakiti perasaan orang lain. Sungguh ku tak ingin melakukan hal yang “TERBODOH” didalam hidupku. Menyakiti perasaan orang lain, sama saja aku menyakiti diriku sendiri.
Musnah didalam hati untuk menjadi seperti air, dan aku berfikir aku ingin menjadi seperti burung merak yang cantik akan pesona warna bulu dibadannya. Namun nasib sang burung cantik tidak senada dan seirama dengan kehidupannya. Bulu burung merak yang cantik dijadikan hiasan berbagai alat fasion manusia terutama kaum hawa.
Aku terus berjalan melangkahkan kaki, menuju kesebuah danau yang tidak terlalu luas. Disana terdapat senyum ceria dibibir para anak-anak yang tanpa dosa. Matanya begitu bening dan pipinya merah merona menikmati air didanau tersebut. Begitu lepasnya mereka tertawa tanpa ada beban sedikitpun, memang diusia mereka hanya disibukan dengan bermain saja tanpa dibebani pikiran. Namun saat kulihat sisi kanan tepi danau terdapat anak yang sedang bersedih, entah kenapa dia tidak ikut bersenang-senang dengan yang lain. Air matanya jatuh diiringi dengan isakan yang sangat pelan. Mata ku seraya menyampaikan kepada otakku bahwa tidak semua anak seusia dia tertawa lepas seperti yang lain.
Hujan mulai menyapa tubuhku dan semua orang yang ada ditepi danau itu. Semua anak-anak itu berlari sambil kegirangan dengan tetesan air hujan yang mengguyur tubuh mereka. Terbesit lagi didalam hati, ku ingin menjadi seperti tetesan air hujan yang membuat semua anak-anak merasa senang, tak terkecuali dengan anak yang bersedih dibawah pohon itu. Senyumnya sangat indah ketika hujan turun, membasahi seluruh alam semesta. Kupikir aku menjadi tetesan hujan yang selalu mencairkan suasana dan menghapus air mata. Musnah semua, anak-anak yang terkena tetesan hujan itu akhirnya menjadi demam. Ku  tak ingin memberi kebahagiaan pada mereka tapi akhirnya  mereka akan merasakan sakit. Lantas apa???
Malam menghampiri, aku masih berada dipersimpangan jalan, tak ada satupun transportasi yang lewat. Aku diam dalam perempatan jalan dibawah paparan pekatnya malam. Aku sendiri hanya ditemani oleh suara jangkrik dan desiran angin. Kenapa makhluk malam tak keluar malam ini? Makhluk malam yang cantik dengan cahaya diseluruh tubuhnya. Mungkin mereka tak ingin menemaniku malam ini.
Tiba saatnya sang fajar menampakkan rupanya kebumi, mencairkan embun yang berada didedaunan membuat burung bernyanyi bak penyanyi yang memiliki suara yang tak tertandingi. Alunan musik itu sungguh nyata datangnya dari hati. Kembangpun bermekaran menampakkan sari-sarinya. Langit begitu bersih tanpa ada noda, dan udara sangat sejuk ketika tidak ada asap kendaraan dipersimpangan jalan itu.
Aku berjalan mengikuti kaki kemana melangkah, pikirku masih kacau entah kenapa aku tak mengerti. Menuju padang rumput kaki ku berhenti, tak ada satupun bunga yang kulihat. Hijau sejauh mata memandang, warna rumput yang cerah menyegarkan mataku dan bisikkan angin riang gembira. Tapi ku lihat ada sekuntum mawar merah sangat cantik yang tumbuh dibalik rerumputan. Akupun berfikir kembali tentang sosok diriku. Dan aku menemukannya. Mawar hitam! Itu dia. Mawar hitam tidak banyak yang tau tentangnya dan hanya tumbuh ditempat-tempat tertentu saja. Diriku seperti mawar hitam yang banyak orang menilai ku dengan melihat apa yang telah nampak dari sifat fisikku. Aku memang tak secantik dan seindah mawar merah yang slalu menampakan warna yang membakar semangat setiap orang yang melihatnya. Diriku seperti mawar hitam yang busuk dipandang dan aromanya kepedihan. Hanya sebagian orang yang suka dengan mawar hitam.
Mawar hitam itu lah diriku, membuat semua orang tak ingin memilikinya bahkan kumbang tak mau mendekati mawar hitam. Aku dihina dan dicerca. Lihat dengan mata yang tak memiliki rasa akan keindahan yang dimiliki oleh mawar hitam. Hitam pekat dan legam membuat siapa saja tak ingin menoleh bahkan mendengarnya. Warna nya kasar sekasar pribadiku. Aku jahat seperti warna mawar hitam yang selalu membuat semua orang berfikir negatif tentang diriku. Aku selalu menampakan warna bungaku yang hitam, menyampaikan aroma kepedihan yang mendalam. Aroma kepedihan yang medalam adalah aroma yang membuat semua orang tersakiti akan tingkahlaku diriku. Aku sangat licik, ku membohongi semua orang yang menyayangiku bahkan aku tega membohongi orang yang ku sayang. Maafkan aku, aku menyakiti kalian semua. Diriku memang seorang mawar hitam yang slalu bersembunyi dari keramaian bunga-bunga ditaman. Siapa yang bisa membuatku bangkit? Kalau tidak diriku sendiri.
Aku seperti ini karna aku merasa tersakiti, karna aku seperti peran pengganti. Yang dibutuhkan saat diperlukan. Sanggupkah jika ini terjadi kepada dirimu wahai bunga yang cantik? Namun terimakasih atas hinaan dan ceraan kalian semua. Kata motivasi itu membangkitkan diriku untuk menjadi lebihbaik lagi. Dan terus  berfikir bahwa sekuntum mawar hitam sulit ditemukan dan dan hanya tumbuh didaerah tertentu saja. Begitu pula dengan diriku yang hanya bisa mengenal baik dengan mengetahui sifat asliku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar