Kamis, 30 Januari 2014

Hujan diteriknya Mentari


Akhir-akhir ini badanku terasa
lemas dan mata ini seakan-akan ditutup para setan. Rasanya ingin
bermalas-malasan dan tidak ingin memikirkan kewajiban hidup. Kurebahkan tubuh
ini kelantai yang hanya beralaskan kepalaku dengan telapak tangan. Rasanya aku
ingin menenangkan diri dulu dari masalah yang menimpaku saat ini. 30 menitpun
berlalu, aku segera bangun dan menyelesaikan tugas rumahku. Handphone ku yang
masih saja tersambung dengan listrik itu ku diamkan karena beterai belum terisi
penuh, setelah aku mendengar bunyi SMS di handphone ku langsung saja ku buka. Kufikir
mungkin operator yang setiap hari meSMS ku. Dan ternyata bukan, alhasil adalah
perempuan yang dulu bilang aku macam-macam. Bilang aku merebut pacarnya lah dan
sebagainya. Dia meminta maaf kepadaku jika ada salah. Aku diamkan saja SMS nya
itu, tidak ku balas karena aku malas mengisi pulsaku.
Dan aku merasa aku paling bodoh
dikelas karena setiap tugas yang menghitung aku tak bisa. Aku payah dalam hal
menghitung. Kepalaku seakan memanas saat malam ini lampu padam disekitar
rumahku dan akupun belum selesai dengan tugasku yang menumpuk, tugas hari-hari
yang aku diamkan untuk bermalas-malasan. Akhirnya apa yang aku kerjakan dimalam
yang gelap ini? Sedangkan lampu dengan daya charger itu dipakai Ayahku untuk
menghitung pekerjaan beliau sendir. Jadi hanya handphone yang aku kerjakan. Sebenarnya
aku juga merasa jengkel dengan dia, aku terus yang disalahkan dan tak ada
perhatiannya sama sekali. Mungkin perhatiannya ada tapi aku tidak menanggapi
perhatian itu karena aku yang terlalu egois.
Hari ini ada 2
hal yang aku bingung harus bagaimana? Apakah harus sedih, senang, bahagia,
gelisah, tertawa atupun menagis. Aku merasa bimbang dengan perasaanku. Hal yang
pertama aku merasa bahagia karena orang yang dulu memusuhi ku sudah meminta
maaf kepadaku, dan aku sungguh bahagia akhirnya dia memintamaaf. Dan hal yang
kedua adalah saat ‘Dia’ sudah mencapai titik jenuh kepada ku dia berkata : “Aku
bimbang dengan perasaanku saat ini terhadapmu, kamu terlalu egois sekarang. Emosi
mu cepat naik, tidak seperti dulu. Aku tau sifat mu itu cuma kamu bawel aja.” Sontak
aku langsung terkejut membaca chat nya seperti itu, maaf beginilah aku. Aku sekarang
mulai tidak terkontrol emosi, aku sering diceramahi orang yang lebih tua dari
ku termasuk kamu! Dia pun berkata bahwa orangtua itu tidak menceramahi
melainkan menasehati. Kamu itu dimarahi pasti ada yang membuat orangtua marah,
makanya kamu dikasih tau bukan malah memarahi.

Dari situ aku
simpulkan, menjadi anak kecil itu kadang nggak seenak saat menikmati eskrim. Jadi
anak kecil itu susah-susah gampang. Terkadang kita dimanjaain, dan dimaklumi,
akan tetapi anak kecil selalu ada kata yang muncul à kamu itu TidakBoleh seperti ini,
kata tidak boleh selalu terlontar dimulut orangtua. Anka kecil maupun remaja
seperti ku ini menyadari saja bahwa emosi masih naik turun, masih ingin
mengekspresikan diri kepada dunia. Tapi setidaknya bisakah menegur dengan cara
yang halus? Bisakah menjadikan anak kecil itu tidak manja lagi dengan
kasihsayang dan penuh kesabaran? Aku tak mengerti kadang cara berfikir orang
tua itu, maunya serius dan tak ada kata bercanda. Maunya langsung terwujud
tanpa ada proses, berubah butuh proses, dan proses menjadi lebih baik itu tidak
lama. Anak kecil terkadang selalu salah dimata orangtua. Maunya orangtua
pendapat beliau saja yang dituruti tanpa memikirkan dan mendengarkan pendapat
anak kecil.

Buat saja
endingnya sesukamu! Mau happy ending atau sad ending. Aku sudah lelah dengan
semua ini. Perasaan yang berkecamuk dengan kebahagiaan dan kesedihan membuatku
mulai membenci dengan yang namanya kekasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar