Jumat, 31 Januari 2014

Setelah Kau Tak Lagi Kekasihku

Wajahnya tak secerah seperti mentari pagi lagi. Tak seceria saat aku mengenalnya dulu.
Terdapat senyum yang seakan dipaksa dari bibir dan menyembunyikan semua kesedihan diraut mukanya. Dengan muka yang pucat dan sedikit ada kesakitan dihatinya dia menatapku seakan dia tak lagi dapat memilikiku. Seakan-akan aku akan lenyap dibumi ini dan meninggalkan hidupnya. Dengan binar air mata yang menghiasi bola matanya yang indah itu seakan aku tak mampu melihat air itu jatuh dan ingin menahannya. Tapi aku tak bisa, air itu terus mengalir deras dari wajahnya yang manis itu.

Hanya kata maaf yang ku lontarkan kepadanya, dan aku tau kata maaf tidak dapat mengembalikan keadaan walau hanya 1 detik yang lalu. Tapi setidaknya aku hanya berusaha meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang dulu menghiasi hari-harinya. Mungkin dia sungguh terpukul dengan keputusan ku ini. Tapi ini adalah hal yang terbaik bagiku namun tidak baginya. Kutatap wajahnya dia selalu menunduk dan menyembunyikan kekecewaan. Ini bukan akhir dari segalanya sayang, hidupmu masih panjang kau harus meneruskan hidupmu dan mendapatkan apa yang kau mau. Kejarlah kesuksesan dulu sayang, maka cinta akan mengalir didalam kesuksesan itu.

Aku bimbang dengan perasaan ku terhadapnya. Aku masih mencintainya tapi dia membuatku muak dengan emosinya yang tak bisa dia kendalikan saat marah. Aku sudah memberi nasihat kepadanya namun tetap saja diriku dicacinya. Yang aku benci dan ilfil dari dalam dirinya hanya itu. Dia membuatku emosi saat aku sedang bekerja dan dia meminta sesuatu dan harus terpenuhi saat itu juga yang tidak bisa aku penuhi. Dia juga tidak mau mendengar apa kata-kataku. Seharusnya dia menuju kedewasaan. Dimana dia harus mendengarkan nasihat orang-orang yang lebih tua darinya, namun dia tetap keras dengan pendiriannya seperti itu.

Dan yang aku benci darinya adalah saat aku memberikannya saran malah ditolaknya dan tak mau mendengarkan ku. Aku bingung dengan sikapnya. Sekali emosinya meningkat orang-orang disekitarnya selalu dia abaikan demi kepentingannya sendiri.

Maafkan sayang aku memutuskanmu, mungkin ini jalan yang terbaik bagi kita. Namun saat kau tak lagi menjadi kekasihku, aku akan ada untukmu dan kita akan terus bersama. Meski hubungan kita sekarang tidak seperti dulu lagi. Namun perasaan cinta itu kini memudar saat aku merasa kau bukan yang dulu kukenal, aku mencintaimu tapi tidak seperti cintaku yang dulu. Lebih baik kau lupakan aku walau hanya sedikit demi sedikit. Namun aku yakin kau pasti kuat tanpa aku.

Cinta itu kini hilang seperti desiran pasir yang terbawa hembusan angin. Cinta itu hilang karena kau tak dapat mengendalikan emosimu. Dan cinta itu hilang saat aku menasihati mu dan kau tak mau mendengarkan kata-kataku. Seakan-akan aku menasihatimu seperti radio rusak dan kicauan burung dipagi hari dan hanya kau dengarkan namun tak kau kerjakan. Seakan-akan nasihatku itu sia-sia. Dan aku lelah denganmu sayang. Sekarang lupakan saja hubungan kita. Anggap saja kita tak pernah menjalin hubungan spesial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar