Selasa, 07 Januari 2014

Titik Dalam Koma

Apakah kau mengerti akan maksud dari isi hati ku ini? Apakah kah berusaha tidak untuk mengecewakan ku? Apakah kau berusaha untuk memperjuangkan ku? Atau sebaliknya? Kau hanya diam dalam kata. Tanpa bersuara, hanya mata mu yang bicara seakan-akan kau bisu dan kelu saat melihatku menangis disini.
Hanya tanganmu yang bisa meraihku dan membujukku untuk mengakhiri butiran air mata untuk berusaha mengakhirinya. Aku hanya bisa merasakan tanganmu yang lembut membelaiku, tanpa satu katapun yang membasahi bibirmu. Hanya bicara mata? Aku tak mengerti akan arti senyummu kepadaku. Apakah kau akan setia pada ku sampai nanti ataukah sebaliknya? Aku berusaha memancingmu dengan pertanyaan agar kau bicara denganku, paling tidak kau hanya memanggilku dengan kata sayang.

Sekitar 2 jam lebih aku menunggu mu bicara. Dan akhirnya kau bicara sambil mencium keningku sebentar. Tangisan ku makin terisak dan tersedu setelah mendengarmu mengucapkan kata-kata yang membuatku hancur. Kau berucap untuk mengakhiri kisah kita yang indah yang kita rajut bersama selama 5 tahun lamanya. Suka dan duka telah aku lalui bersama mu. Namun kau dengan segampang itu mengakhirinya dengan TITIK. Apa maksud nya? Inikah balasan mu terhadapku? Apakah kau lelah menjagaku? Apa kau lelah mencintai dan menyayangiku?
Kau usap air yang jatuh dari mataku itu namun tetap saja dia berguguran. Kau hanya menggenggam saat air mataku jatuh. Aku tau, tidak mudah kau melupakan hubungan ini selama 5 tahun.

Kau bicara dengan sedih bahwa dia mau menikah dengan seseorang yang pantas untuk nya dan keluarganya. Aku menanyakan perempuan yang beruntung itu. Tapi kau tidak mau memberi tahu ku seakan ku mau membunuh perempuan itu. Kini aku dalam kehancuran dan kelaraan. Hatiku berkecamuk dengan kebencian terhadapmu! Namun aku hanya bisa pasrah.


Kau memegang wajahku dengan kedua tangan mu dan tersenyum saat aku melihat air mata. Kau mau tau siapa perempuan beruntung itu? Iya jawabku. Tapi kau harus janji kau tidak akan menghancurkan hidupnya. Baiklah kataku. Dia adalah kamu, aku mau mengakhiri hubungan ini dengan cara menikahimu sambil tersenyum dan memelukku dengan kasih sayang. Dia menyapu air mataku dan menyuruhku untuk tersenyum. Aku mengakhirimu dengan cara TITIK DALAM KOMA. Jadi kau jangan bersedih sayang, aku sangat mencintaimu dan hanya dengan cara ini aku bisa membuktikan cintaku. Maafkan aku sayang aku telah membuatmu hancur, tapi itu aku lakukan untuk membuatmu terharu meskipun cara ini tidak so sweet.

Akupun tersenyum dengannya, dia membuatku bangga dengan diriku sendiri. Aku tidak dapat berkata-kata lagi setelah mendengar dia berkata seperti itu. Kamipun berpelukan dan dia mencium kening dan pipiku.

2 komentar: